Citra Satelit (Penginderaan Jauh) Untuk Pertambangan
~ Posted : 27 August 2020
Share : 115
Perkembangan teknologi saat ini berkembang dengan sangat cepat begitu juga perkembangan teknologi citra satelit untuk berbagai kebutuhan yang salah satunya adalah pemanfaatan citra satelit untuk pertambangan. Berbagai regulasi untuk sektor pertambangan tentang kewajiban pemanfaatan dari citra satelit ini telah dituangkan dalam berbagai peraturan untuk dilaksanakan oleh pelaku usaha pertambangan.


Regulasi tentang kewajiban penggunaan citra satelit (Penginderaan Jauh) sebagai berikut:

  1. Keputusan Menteri ESDM Nomor 1806 Tahun 2018 (Tentang Pedoman Pelaksanaan Penyusunan, Evaluasi, Persetujuan Rencana Kerja Dan Anggaran Biaya, Serta Laporan Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara)
  2. Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 Tahun 2018 (Tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik)
  3. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 04 Tahun 2012 (Tentang Indikator Ramah Lingkungan Untuk Usaha Dan/Atau Kegiatan Penambangan Terbuka Batubara)
  4. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.27/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2018 (Tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan)

Keunggulan citra satelit adalah mempunyai biaya yang ekonomis, resolusi yang tinggi dan mampu menjangkau area yang luas. Pada Sektor Pertambangan dan Lingkungan Hidup Citra satelit dapat digunakan untuk memonitoring kegiatan sebagai berikut:

  1.       Peta Citra satelit high resolution (natural colour) berupa raw data dan data raster (sudah terkoreksi geometrik) sebagai lampiran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan pertambangan mineral dan batubara.
  2.         Time series perubahan kemajuan tambang dari tahun ke tahun baik dari awal penambangan sampai dengan saat ini.
  3.         Peta citra satelit resolusi tinggi realisasi kemajuan Reklamasi Pertambangan Mineral dan Batubara.
  4.         Penataan lahan bekas tambang (pascatambang) sesuai dengan peruntukannya.
  5.        Luas permukaan lubang galian yang terbentuk tidak lebih dari 20% (duapuluh perseratus) dari luas IUP apabila lubangnya terkonsentrasi atau tidak lebih dari 30% (tigapuluh perseratus) dari luas IUP apabila lubangnya terfragmentasi dan setiap lubang tidak lebih dari 20% (duapuluh perseratus) dari luas IUP.
  6.        Luas permukaan bekas lubang galian yang terbentuk tidak lebih dari 20% (duapuluh perseratus) dari luas IUP apabila lubangnya terkonsentrasi atau tidak lebih dari 30% (tigapuluh perseratus) dari luas IUP apabila lubangnya terfragmentasi dan setiap lubang tidak lebih dari 20% (duapuluh perseratus) dari luas IUP.
  7.        Pemegang IPPKH wajib menyampaikan Laporan berkala 6 bulan sekali secara periodik yang salah komponen pelaporannya adalah peta Citra Resolusi Sangat Tinggi dengan Resolusi < 1 meter (format geotiff).
  8.         Jarak tepi lubang galian paling sedikit 500 (limaratus) meter dari batas IUP (rona awal berdekatan dengan permukiman).
  9.         Monitoring Penambangan Tanpa Izin (PETI) berupa luas bukaan tambang PETI, Jumlah Alat Berat dan dampak negatif dari aktivitas PETI.
  10.         Ekplorasi Pendahuluan untuk pertambangan mineral dan batubara.


Detail Level, Resolusi dan Ukuran jasa pengadaan dan pengolahan citra satelit sebagai berikut:


Level Peta
Resolusi Peta
Level 1
30 - 100 meter
Level 2
10 - 29,9 meter
Level 3
3 - 9,99 meter
Level 4
50 cm - 2,99 meter


Penawaran dan keunggulan jasa pengadaan dan pengolahan citra satelit sebagai berikut:

  1.         Harga yang terjangkau Produk yang kami tawarkan mulai dari Rp 275,- per hektar
  2.         Tenaga Ahli tersertifikasi Dikerjakan oleh Ahli Madya SIG Level 8 bersertifikasi BNSP
  3.      Produk terjamin Produk yang dihasilkan memiliki resolusi tinggi dan sesuai dengan Peraturan Pemerintah

Untuk penggunaan jasa citra satelit untuk pertambangan ini dipersilahkan menghubungi:

Phone    : 0821-8691-3556 (Raveli)

Email     : raveli@portaltambang.com

 

Salam,

Portal Tambang

www.portaltambang.com